PENGENALAN SPESIMEN HAMA: ORDO ORTOPHTERA (Laporan Praktikum Ilmu Hama Tumbuhan)

Rabu, 03 April 2013

PENGENALAN SPESIMEN HAMA: ORDO ORTOPHTERA
(Laporan Praktikum Ilmu Hama Tumbuhan)




Oleh

Lugito
1114121122


  











PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2013





I. PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Organisme penganggu tanaman (OPT) merupakan faktor pembatas produksi tanaman di Indonesia baik tanaman pangan, hortikultura maupun perkebunan. Organisme pengganggu tanaman secara garis besar dibagi menjadi tiga yaitu hama, penyakit dan gulma. Hama menimbulkan gangguan tanaman secara fisik, dapat disebabkan oleh serangga, tungau, vertebrata, moluska. Sedangkan penyakit menimbulkan gangguan fisiologis pada tanaman, disebabkan oleh cendawan, bakteri, fitoplasma, virus, viroid, nematoda dan tumbuhan tingkat tinggi.

Seperti kita ketahui bahwa tanaman adalah makhluk hidup ciptaan Tuhan yang memiliki manfaat sangat besar terutama bagi kepentingan manusia. Sebagian besar produk/hasil tanaman tersebut dimanfaatkan oleh manusia untuk kepentingan hidup dan kehidupannya. Namun sebaliknya, produk/hasil tanaman tersebut juga diminati makhluk hidup lain yaitu hama. Fenomena inilah yang menyebabkan manusia harus senantiasa berusaha agar produk/hasil tanaman yang dibudidayakan tersebut terhindar dari gangguan organisme pengganggu tanaman. Dalam agro-ekosistem, tanaman yang kita usahakan dinamakan produsen, sedangkan herbivora yang makan tanaman dinamakan konsumen pertama, sedangkan karnivora yang makan konsumen pertama adalah konsumen kedua. Herbivora yang berada pada tanaman tidak semuanya menimbulkan kerusakan. Ada herbivora yang keberadaannya dikehendaki ada juga yang tidak. Herbivora yang keberadaannya tidak dikehendaki karena dapat menimbulkan kerusakan pada tanaman yang dibudidayakan disebut hama. Jadi selama keberadaannya ditanaman tidak menimbulkan kerusakan secara ekonomis, maka herbivora tersebut belum berstatus hama.


Hama adalah semua herbivora yang dapat merugikan tanaman yang dibudidayakan manusia secara ekonomis. Akibat serangan hama produktivitas tanaman menjadi menurun, baik kualitas maupun kuantitasnya, bahkan tidak jarang terjadi kegagalan panen. Oleh karena itu kehadirannya perlu dikendalikan, apabila populasinya di lahan telah melebihi batas Ambang Ekonomik. Dalam kegiatan pengendalian hama, pengenalan terhadap jenis-jenis hama (nama umum, siklus hidup, dan karakteristik) serta gejala kerusakan tanaman menjadi sangat penting agar tidak melakukan kesalahan dalam mengambil langkah/tindakan pengendalian.

B. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dalam praktikum ini yaitu sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui morfologi hama ordo Ortophtera.
2. Untuk mengetahui spesies hama dalam ordo Ortophtera.




II.  PEMBAHASAN


A. Pembahasan

Pada suatu ekosistem pertanian ada serangga yang setup tahun merusak tanaman sehingga menimbulkan kerugian yang cukup besar, ada serangga yang populasinya tidak begitu tinggi tetapi merugikan tanaman pula bahkan ada serangga yang populasinya sangat rendah dan kerusakan yang diderita tanaman kurang diperhitungkan. Untuk lebih jelasnya serangga-serangga yang diuraikan diatas dikategorikan :

A. Status hama
Ø  Major pest / Main pest / Key pest atau hama penting / hama utama, adalah serangga hama yang selalu menyerang tanaman dengan intensitas serangga yang berat sehingga diperlukan pengendalian. Hama utama itu akan selalu menimbulkan masalah selalu tahunnya dan menimbulkan kerugian cukup besar. Biasanya ada satu atau dua species serangga hama utama di suatu daerah. Hama utama untuk tiap daerah dapat sama atau berbeda dengan daerah lain padatanaman yang sama. Sebagai contoh hama utama pada tanaman padi dapat berupa wereng coklat, penggerek batang, ganjur karena serangga hama tersebut dapat menimbukan kerugian yang cukup besar sehingga diperlukan strategi pengendaliannya. 

Ø  Secondery pest / Potensial pest adalah hama yang pada keadaan normal akan menyebabkan kerusakan yang kurang berarti tetapi kemungkinan adanya perubahan ekosistem akan dapat meningkatkan populasinya sehingga intensitas serangan sangat merugikan. Dengan demikian status hama berubah menjadi hama utama. Sebagai contoh hama putih atau Nymphula depunctalis Guene pada tanaman padi kurang merugikan tanaman pada populasi masih rendah. Apabila ekosistem pesawahan diairi dengan cukup bukan mustahil populasi hama putih itu akan meningkat. Incldently pest / occasional pest adalah hama yang menyebabkan kerusakan tanaman sangat kecil/kurang berarti tetapi sewaktu-waktu populasinya dapat meningkat dan akan menimbulkan kerusakan ekonomi pada tanaman. Sebagai contoh serangga hama belalang yang memakan daun padi biasanya terjadi pada tanaman, padi, setempat-setempat. 

Ø  Migratory pest adalah hama bukan berasal dari agroekosistem setempat tetapi datang dari luar secara periodik yang mungkin menimbulkan kerusakan ekonomi. Sebagai contoh belalang kembara atau Locusta migratoria yang datang secara periodik dan memakan berbagai tanaman sepanjang wilayah yang dilalui dengan populasi yang sangat tinggi.
(Susnihati, 2005).

B. Morfologi Belalang kayu

Belalang kayu ( Valanga nigricornis ) memiliki klasifikasi sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Insecta
Order : Orthoptera
Family : Acridoidea
Genus : Valanga
Specific name : nigricornis
Scientific name : Valanga nigricornis

Tubuh belalang terdiri dari 3 bagian utama, yaitu kepala, dada (thorax) dan perut (abdomen). Belalang juga memiliki 6 enam kaki bersendi, 2 pasang sayap, dan 2 antena. Kaki belakang yang panjang digunakan untuk melompat sedangkan kaki depan yang pendek digunakan untuk berjalan. Meskipun tidak memiliki telinga, belalang dapat mendengar. Alat pendengar pada belalang disebut dengan tympanum dan terletak pada abdomen dekat sayap. Tympanum berbentuk menyerupai disk bulat besar yang terdiri dari beberapa prosesor dan saraf yang digunakan untuk memantau getaran di udara, secara fungsional mirip dengan gendang telinga manusia. Belalang bernafas dengan trakea.

Belalang punya 5 mata (2 compound eye, dan 3 ocelli). Belalang termasuk dalam kelompok hewan berkerangka luar (exoskeleton). Contoh lain hewan dengan exoskeleton adalah kepiting dan lobster. Belalang betina dewasa berukuran lebih besar daripada belalang jantan dewasa, yaitu 58-71 mm sedangkan belalang jantan 49-63 mm dengan berat tubuh sekitar 2-3 gram.

C. Siklus hidup Belalang kayu

Telur belalang menetas menjadi nimfa, dengan tampilan belalang dewasa versi mini tanpa sayap dan organ reproduksi. Nimfa belalang yang baru menetas biasanya berwarna putih, namun setelah terekspos sinar matahari, warna khas mereka akan segera muncul.
Selama masa pertumbuhan, nimfa belalang akan mengalami ganti kulit berkali kali (sekitar 4-6 kali) hingga menjadi belalang dewasa dengan tambahan sayap fungsional. Masa hidup belalang sebagai nimfa adalah 25-40 hari.
Setelah melewati tahap nimfa, dibutuhkan 14 hari bagi mereka untuk menjadi dewasa secara seksual. Setelah itu hidup mereka hanya tersisa 2-3 minggu, dimana sisa waktu itu digunakan untuk reproduksi dan meletakkan telur mereka. Total masa hidup belalang setelah menetas adalah sekitar 2 bulan (1 bulan sebagai nimfa, 1 bulan sebagai belalang dewasa), itupun jika mereka selamat dari serangan predator. Setelah telur yang mereka hasilkan menetas, daur hidup belalang yang singkat akan berulang.

D. Morfologi Anjing tanah

Anjing tanah ini adalah sebangsa serangga dari famili Gryllotalpidae yang dalam bahasa Jawa lebih sering disebut sebagai orong-orong atau keredek. Orang Sunda menyebutnya sebagai gaang, dan dalam bahasa Toba lebih dikenal sebagai singke. Binatang yang sering dinamai juga sebagai gangsir tanah ini dalam bahasa inggris dikenal sebagai mole cricket.
Selain sepasang tungkai depannya yang besar dan bergerigi, anjing tanah mempunyai bentuk kepala khas yang besar dan bercangkang keras. Hewan ini juga memiliki sepasang sayap kecil. Warna tubuhnya mulai dari kecoklatan hingga hitam dengan panjang tubuh berkisar antara 27-35 mm. Sekilas tampang serangga ini memang menakutkan dan primitif. Tidak menherankan, karena diperkirakan anjing tanah (mole cricket) telah ada sejak 35 juta tahun silam.
Orong-orong atau anjing tanah merupakan hewan nokturnal yang beraktifitas di malam hari. Hewan ini juga mampu mengeluarkan suara melalui organ stridulasi seperti jangkrik, meskipun suaranya terdengan lebih monoton ketimbang jangkrik. Anjing tanah mengeluarkan suaranya dari dalam lubang persembunyian atau rumah yang berupa terowongan di dalam tanah.
Binatang yang sering ditemukan di pemukiman ini ternyata mempunyai kemampuan terbang yang jauh. Orong-orong mampu terbang sejauh 8 km ketika sedang berusaha mencari pasangan kawin. Anjing tanah merupakan binatang karnivora yang memakan larva-larva serangga lain dan cacing tanah. Namun sering kali orong-orong juga memakan akar, tunas-tunas tanaman, dan rerumputan. Pemangsa alami orong-orong bermacam-macam, mulai dari burung, ayam, tikus, sigung, hingga rubah.

E. Morfologi Belalang Sembah (Stagmomantis carolina Ol.)
Taksonomi serangga menurut http://wikipedia.org adalah sebagai berikut
Kingdom : Animalia
Filum       : Arthropoda
Kelas       : Insecta
Ordo        : Ortophtera
Family     : Mantidae
Genus     : Stagmomantis
Species    : Stagmomantis carolina Ol.

Belalang mempunyai eksosekeleton yang berfungsi untuk melindungi organ-organ dalam. Eksosekeleton berupa kutikula yang terdiri atas zat khitin dan terbagi menjabi segmen-segmen. Antara segmen satu dengan lainnya terdapat sutura yaitu bagian lunak, dan berfungsi untuk memudahkan pergerakan abdomen, sayap, kaki, antenna, dan lain-lain. Setiap segmen tubuh tersusun dari potongan-potongan terpisah yang dikenal sebagai sklereit. Beberapa sklereit dari segmen khusus tidak dapat dibedakan sehingga sutura tidak berfungsi lagi. Tubuh belalang dibedakan menjadi 3 kelompok segmen yaitu kepala (caput), dada (torak) dan perut (abdomen). Kepala (caput) pada dasarnya tersusun atas 6 segmen yang berfusi. Keenam segmen tersebut tidak nampak lagi pada hewan dewasa, tetapai pada saat embrio teramati. Bukti adanya keenam segmen pada saat dewasa yaitu terlihat adanya 6 apendik yang meliputi pleural, antenna, interkalari, mandibula, maksila, dan labial. Eksosekeleton kepala dikenal sebagai epioranium yang terletak di sebelah belakang mata. Genae merupakan bagian yang terletak di kedua sisi lateral bagian kepala bagian depan. Sedangkan sklereit empat persegi panjang yang terletak dibawah epioranium depan disebut clypeus.

Pada kedua sisi kepala terdapat mata majemuk berwarna hitam. Mata majemuk dilindungi oleh bagian transparan dari kutikula yaitu cornea, dimana terbagi menjadi sejumlah besar potongan berbentuk segi enam yaitu disebut sebagai facet. Setiap facet merupakan ujung terluar dari suatu unit yang disebut onimatidium. Adanya struktur ini akan memberikan gambaran mazaik seperti dada udang. Di antara beberapa serangga, kemungkinan belalang mampu membedakan warna. Selain mata majemuk, belalang memiliki mata sederhana atau ocellus di daerah kepala bagian atas serta tepi sebelah dalam mata majemuk. Mata sederhana ini terdiri atas sekelompok sel-sel penglihatan yaitu retinula dan di bagian tengahnya terdapat batang optic yaitu rhabdom. Bagian terluar mata sederhana terdapat lensa transparan yang merupakan modifikasi dari kutikula. Selain mata, terdapat juga sepasang antenna yang panjang dan mobil (bergerak-bergerak). Antena belalang berbentuk benang dan tersusun atas sejumlah besar segmen. Pada antenna terdapat rambut-rambut sensori yang kemungkinan berfungsi sebagai indera pembau. Labrum atau bibir atas terletak di sisi ventral clypeus. Disebelah bawah labrum terdapat organ yang bentuknya seperti lidah yaitu hypopharynx. Disetiap sisinya terdapat rahang keras mandibula. Permukaan rahang ini bergigi untuk menggiling makanan. Disebelah bawah mandibula terdapat sepasang maxilla. Setiap maxilla terdiri atas cardo, stipes, lacinia, galea, dan palpus maxillary. Labium bawah terdiri atas submentum, mentum, ligula, dan palpus labial yang tyerdapat pada setiap sisinya. Labrum dan labium berperan memegang makanan diantara mandibula dan maxilla yang bergerak secara lateral untuk membedakan jenis makanan karena adanya organ-organ indera (Pracaya, 2002).

Dada (thorax) terdiri atas 3 segmen yaitu prothorax, mesothorax, dan metathorax. Tiap-tiap segmen tertutup oleh eksosekeleton, dibagian dorsal disebut tergum, disisi lateral disebut pleura, disisi ventral disebut sternum. Pada mesothorax dan metathorax masing-masing terdapat sepasang sayap. Sayap pada segmen mesothorax merupakan sayap anterior dan disebut tegmina. Sayap pada segmen metathorax merupakan sayap posterior. Ditinjau dari strukturnya sebuah sayap terdiri atas membrane atas dan membrane bawah sayap anterior berupa lembaran tebal tidak tembus cahaya, sedang sayap posterior berupa lembaran tipis dan transparan. Di sisi lateral mesothorax dan metathorax terdapat spirakel yang merupakan lubang dari system respirasi. Setiap segmen dada membawa sepasang kaki. Setiap kaki tersusun atas 5 segmen (Pracaya, 2002).

Perut (abdomen), segmen pertama abdomen berfusi dengan metathorax. Hasil penggabungan ini hanya terdiri atas tergum saja, dan disetiap sisi segmen terdapat membrane tympani berbentuk oval yang merupakan penutup sebuah kantung pendengaran. Pada segmen ke 9 dan ke 10, sternumnya berfusi. Segmen ke 11 hanya terdiri atas tergum saja dan membentuk alat genitalia. Pada hewan jantan terdiri atas lempengsubgenital, 2 lempeng podical, dan 2 cerci. Sedangkan pada hewan betina memiliki 2 lempeng podical, 2 cerci, dan 3 pasang lempeng yang dapat digerakkan dimana membentuk ovipositor, alat untuk meletakkan telur (Pracaya, 2002).

F. Siklus hidup belalang sembah
Biologi (siklus hidup) belalang sembah menurut Jumar (1997) adalah sebagai berikut : Telur diletakkan pada cabang tanaman dalam sarang yang dibentuk oleh betina. Masing-masing sarang bisa berisi 200 telur atau lebih. Telur berwarna cokelat kemerahan. Lama stadia telur adalah 5-8 minggu. Nimfa keluar dari sarang telur secara bersama-sama. Nimfa kelihatan seperti dewasa kecuali dia lebih kecil dan sayap belum sempurna. Nimfa ganti kulit beberapa kali. Nimfa berwarna putih, kuning ,ungu, dimana bentuk dan warnanya berubah seperti warna bunga. Nimfa mengalami 5 instar. Imago kawin dan betina bertelur dalam sarang. Biasanya betina makan jantan langsung setelah kawin atau sambil kawin. Imago berwarna hijau cerah. Stadia imago kurang lebih 4 bulan.

G. Keberadaan Hama itu sendiri

Hama adalah makhluk hidup yang menjadi pesaing, perusak, penyebar penyakit, dan pengganggu semua sumber daya yang dibutuhkan manusia. Definisi hama bersifat relatif dan sangat antroposentrik berdasarkan pada estetika, ekonomi, dan kesejahteraan pribadi yang dibentuk oleh bias budaya dan pengalaman pribadi.
Pengkategorian serangga hama didasarkan pada sumber daya yang dipengaruhinya. Tiga kategori umum hama serangga adalah hama estetika, hama kesehatan, serta hama pertanian dan kehutanan. Hama estetika mengganggu suasana keindahan, kenyamanan, dan kenikmatan manusia. Hama kesehatan menimbulkan dampak pada kesehatan dan kesejahteraan manusia berupa luka, ketidaknyamanan, stress, sakit, pingsan, dan bahkan kematian. Sekitar 50% dari seluruh jenis serangga penghuni bumi merupakan serangga herbivora yang dapat merusak tanaman pertanian dan kehutanan secara langsung atau pun tidak langsung. Sehimgga kecil kemungkinan serangga tersebut tidak bereproduksi atu bermetamorfosis.
(Adi, 2010)


III. PENUTUP

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, dapat di simpulkan bahwa :
1. Spesiemen yang di amati yaitu : Belalang sembah, Belalang kayu dan Anjing tanah atau orong-orong.
2. Siklus hidup pada masing-masing spesimen Ordo Ortophtera adalah siklus metamorfosis tidak sempurna.
3. Sekitar 50% dari seluruh jenis serangga penghuni bumi merupakan serangga herbivora yang dapat merusak tanaman pertanian dan kehutanan secara langsung atau pun tidak langsung.
4. Kecil kemungkinan serangga tidak mempunyai siklus hidup/bermetamorfosis.


DAFTAR PUSTAKA

Basukriadi, adi. 2010.Pengendalian Hayati. http://staff.blog.ui.ac.id/devita/. Diakses 2 April 2013.

http : // www.wikipedia.org.id/wiki/belalang_sembah. Diakses 2 April 2013.

Jumar. 1997. Entimologi Pertanian. Rineka Cipta. Jakarta.

Pracaya. 2002. Hama dan Penyakit Tanaman. Penebar Swadaya. Jakarta.

Susnihati, nenet. 2005. Buku ajar Ilmu Hama Tumbuhan. Universitas Padjajaran. Bandung.

0 komentar:

Poskan Komentar