Pages

SIGMA TAYANGAN

Kamis, 29 November 2012

PEMANFAATAN BIJI MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa) SEBAGAI BIOINSEKTISIDA ORGANISME PARASIT PADA TANAMAN CABAI (Capsicum sp)



PEMANFAATAN BIJI MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa) SEBAGAI BIOINSEKTISIDA ORGANISME PARASIT
PADA TANAMAN CABAI (Capsicum sp)

Oleh
LUGITO




BAB I
PENDAHULUAN


1.1        Latar Belakang Masalah

Pohon mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) dari suku Thymelaceae merupakan salah satu jenis tanaman obat yang sedang populer untuk dikonsumsi saat ini. Tanaman ini dikenal sebagai  tanaman obat yang berasal dari daratan Papua atau Irian Jaya. Hampir sebagaian besar masyarakat Indonesia menanam tanaman mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) sebagai tanaman obat keluarga.

Buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) terdiri dari kulit, daging buah, cangkang buah, dan biji buah. Selama ini masyarakat Indonesia memanfaatkan kulit, daging dan cangkang buah sebagai bahan baku obat guna menyembuhkan berbagai macam penyakit. Sedangkan biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) dibuang karena dianggap kurang berguna dan kurang dimanfaatkan bagi dunia pengobatan. Didalam biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) mengandung toksisitas atau senyawa racun yang tinggi. Biji yang tergigit atau terkonsumsi dapat menyebabkan pembengkakan di mulut. Selain itu dapat pula menyebabkan lidah kaku, mati rasa, mabuk, pusing bahkan pingsan. Oleh karena itu biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) kurang dimanfaatkan secara maksimal dan dibuang begitu saja.

Tanaman cabai (Capsicum sp) adalah tanaman budidaya, kadang-kadang ditanam dipekarangan sebagai tanaman sayur atau tumbuh liar ditegalan dan tanah kosong. Tanaman cabai menyukai daerah kering, dan ditemukan pada ketinggian 0,5 -1,25 m. Batangnya berbuku-buku atau bagian atas bersudut. Daun tunggal, bertangkai, letak berseling, bunga keluar dari ketiak daun, mahkota bentuk bintang, tunggal atau 2-3 bunga letaknya berdekatan, berwarna putih, putih kehijauan. Buahnya tegak, kadang-kadang merunduk, berbentuk memanjang lurus atau bengkok, ujung merundung, bertangkai panjang, dan rasanya pedas. Bijinya banyak, bulat pipih, berwarna kuning kotor.

Seperti kita ketahui pada masyarakat luas kususnya masyarakat Kabupaten Lampung Tengah, tanaman cabai (Capsicum sp) merupakan salah satu jenis tanaman unggulan bagi para petani, karena hasil yang diperoleh dari menanam tanaman cabai (Capsicum sp) yang dapat meningkatkan angka pendapatan para petani. Selain itu juga, tanaman cabai (Capsicum sp) merupakan produk yang sangat penting bagi dunia kuliner khususnya rumah tangga, industri makanan baik kecil, menengah dan besar.
Akan tetapi, selama ini masalah yang sering ditemui oleh para petani cabai Kabupaten Lampung Tengah yaitu banyaknya organisme parasit/pengganggu berupa kutu kebul (Bemicia tabachi) dan semut merah (Formica ruva). Kedua organisme tersebut bersifat parasit, bahkan kutu kebul (Bemicia tabachi) merupakan media penular (vektor) dari perkembangan virus gemini yang berbahaya dan dapat menyebabkan angka produksi tanaman cabai (Capsicum sp)  menurun bahkan gagal panen.
 Selama ini petani Kabupaten Lampung Tengah menggunakan insektisida kimia guna menekan angka populasi kutu kebul (Bemicia tabachi) dan semut merah (Formica ruva). Insektisida kimia lebih mahal dan juga memberikan dampak negatif bagi kelestarian khususnya kesuburan tanah pertanian.
Berdasarkan telaah pernyataan diatas, kami melakukan penelitian tentang PEMANFAATAN BIJI MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa) SEBAGAI BIOINSEKTISIDA ORGANISME PARASIT PADA TANAMAN CABAI (Capsicum sp).


1.2        Identifikasi Masalah
Adapun identifikasi masalah dari latar belakang diatas adalah sebagai berikut:
1.      Mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) sebagai tanaman obat.
2.      Biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) tidak dimanfaatkan karena bersifat racun.
3.      Efek mengkonsumsi biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa).
4.      Pendeskripsian tanaman cabai (Capsicum sp).
5.      Tanaman cabai (Capsicum sp) sebagai produk penting.
6.      Terdapat organisme parasit pada tanaman cabai (Capsicum sp).
7.      Penggunaan insektisida kimia oleh para petani.

1.3        Batasan Masalah
Adapun batasan masalah dari penelitian ini yaitu sebagai berikut:
1.      Biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) bersifat racun.
2.      Semut merah (Formica ruva) dan kutu kebul (Bemicia tabachi) sebagai organisme parasit pada tanaman cabai (Capsicum sp).
3.      Penggunaan bioinsektisida biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) pada tanaman cabai (Capsicum sp) dilakukan dengan cara penyemprotan aktif.

1.4        Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Apakah biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) dapat dimanfaatkan sebagai bioinsektisida pada tanaman cabai (Capsicum sp)?
2.      Bagaimanakah cara pengolahan biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) agar dapat dimanfatkan sebagai bioinsektisida pada tanaman cabai (Capsicum sp)?
3.      Apa sajakah keuntungan yang diperoleh dari penggunaan bioinsektisida biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa)?

1.5        Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian dalam karya tulis ini adalah :
1.      Untuk mengetahui pemanfaatan biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) sebagai bioinsektisid pada tanaman cabai (Capsicum sp).
2.      Untuk mengetahui cara pengolahan biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) agar dapat dimanfaatkan sebagai bioinsektisida pada tanaman cabai (Capsicum sp).
3.      Untuk mengetahui keuntungan yang diperoleh dari penggunaan bioinsektisida biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) pada tanaman cabai (Capsicum sp).

1.6        Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian yang diperoleh dari penelitian ini yaitu sebagai berikut:
1.      Menambah nilai guna biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa).
2.      Memeberi nilai guna bagi para petani cabai.
3.      Mengurangi dampak negatif penggunaan insektisida kimia.

1.7    Hipotesis Penelitian
Adapun hipotesis dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:
1.      Biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) dapat dimanfaatkan sebagai bioinsektisida pada tanaman cabai (Capsicum sp).
2.      Cara pengolahan biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) agar dapat dimanfaatkan sebagai bioinsektisida dengan cara mengupas buah, kemudian memisahkan biji buah dengan daging buah, merebus biji buah kedalam air, selanjutnya menyaring larutan dan membiarkan hingga dingin, kemudian menuangkan larutan tersebut kedalam tangki.
3.      Bioinsektisida biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) memberikan keuntungan yang besar bagi lapisan masyarakat, khususnya para petani cabai di Kabupaten Lampung Tengah.



BAB II
METODELOGI PENELITIAN


2.1  Populasi dan Sampel

   2.1.1   Populasi
Populasi yang kami gunakan dalam penelitian ini yaitu tanaman cabai (Capsicum sp) yang berada didusun Pekalongan Kampung Fajar Asri Kecamatan Seputih Agung Kabupaten Lampung Tengah.
2.1.2        Sampel
Sampel yang kami gunakan dalam penelitian yaiatu 30 tanaman cabai (Capsicum sp) yang ada didusun Pekalongan, tepatnya di daerah ladang cabai (Capsicum sp).

2.2   Waktu dan tempat penelitian
Waktu penelitian dimulai sejak tnanggal 03 September 2010 – 28 Maret 2011, dengan tempat penelitian dilakukan di dusun Pekalongan Kampung Fajar Asri Kecamatan Seputih Agung Kabupaten Lampung Tengah.

2.3  Rancangan Penelitian  :

Rancangan penelitian terdiri atas:
2.3.1        Alat
Alat yang digunakan  dalam penelitian ini yaitu sebagai  berikut:
1.     Pisau (1 buah)
2.     Panci (1 buah)
3.     Gayung (1 buah)
4.     Penyaring (2 buah)
5.     Ember (2 buah)
6.     Tangki semprot (1 buah) ukuran 5-10ℓ

2.3.2        Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:
1.     100 gr biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) segar.
2.     Air ± 5ℓ.

2.3.3        Langkah Kerja
Adapun langkah kerja dalam penelitian yaitu sebagai berikut:
1.      Mengupas buah mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) menggunakan pisau.
2.      Memisahkan biji buah dari dari cangkang  buah dengan mengguanakan pisau.
3.      Memasukan air dalam panci yang telah disiapkan.
4.      Memasukan biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) kedalam panci yang berisi ± 5ℓ air.
5.      Merebus biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) hingga mendidih.
6.      Menuangkan larutan biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) kedalam ember yang telah disediakan.
7.      Mendiamkan larutan biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) hingga dingin.
8.      Menyaring larutan biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa).
9.      Menuangkan larutan biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) ke dalam tangki penyemprot.
10.  Lakukan penyemprotan/perlakuan menggunakan larutan biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) pada objek yang berupa 30 tanaman cabai yang terindikasi terserang organisme parasit.
11.  Lakukan pengamatan menggunakan tabel observasi, tentang jumlah dan rata-rata organisme parasit yang tanggal pada tanaman cabai (Capsicum sp).
12.  Catat dan analisis data tersebut.

    
BAB III
DATA DAN PEMBAHASAN


3.1    Data Penelitian
        Adapun data yang didapat dari hasil penelitian yaitu sebagai berikut:
         Tabel 1:   Perlakuan/penyemprotan pada tanaman cabai (Capsicum sp) menggunakan bioinsektisida mahkota dewa (Phaleria macrocarpa)

BULAN KE-
PERLAKUAN
∑ KUTU KEBUL
∑ SEMUT MERAH
DISEMPROT
TIDAK
DISEMPROT
BANYAK
SEDIKIT
BANYAH
SEDIKIT
1
-
-
-
2
-
-
-
3
-
-
-
4
-
-
-
5
-
-
-
6
-
-
-

Tabel 2: Perlakuan/penyemprotan pada tanaman cabai (Capsicum sp) menggunakan insektisida kimia (Furadan)

BULAN KE-
PERLAKUAN
∑ KUTU KEBUL
∑ SEMUT MERAH
DISEMPROT
TIDAK
DISEMPROT
BANYAK
SEDIKIT
BANYAH
SEDIKIT
1
-
-
-
2
-
-
-
3
-
-
-
4
-
-
-
5
-
-
-
6
-
-
-
  Keterangan:      :  mendapat perlakuan dari penyemprotan insektisida kimia atau bioinsektisida biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa)
-         :  tidak mendapat perlakuan penyemprotan

3.2   Pembahasan

Berdasarkan penelitian yang telah  kami lakukan selama 6 bulan, yaitu pada bulan pertama dilakukan penyemprotan menggunakan bioinsektisida biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) dan hasilnya jumlah organisme parasit kutu kebul (Bemicia tabachi) dan semut merah (Formica ruva) tergolong sedikit. Begitu halnya pada bulan kedua dan ketiga kami tidak melakukan penyemprotan, dan data yang diperoleh jumlah organisme parasit yang berupa kutu kebul (Bemicia tabachi) dan semut merah (Formica ruva) berkurang atau jumlahnya lebih sedikit dari awal sebelum mendapat perlakuan mengguanakan bioinsektisida biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa).
Jumlah data banyak atau sedikit organisme parasit diketahui dengan melihat data acuan rata-rata hasil akhir jumlah organisme parasit sebelum dan sesudah melakukan perlakuan penyemprotan pada objek yang berupa tanaman cabai (Capsicum sp). Dalam penelitian ini, terbukti bahwa tanaman cabai (Capsicum sp) yang terserang kutu kebul (Bemicia tabachi)  dan semut merah (Formica ruva) dapat dikendalikan dengan menggunakan bioinsektisida biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa).
Dalam penelitian tersebut terbukti biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) dapat digunakan sebagai pembasmi organisme parasit pada tanaman cabai (Capsicum sp) dengan waktu efektif 2 bulan dalam satu kali perlakuan atau penyemprotan. Hal ini disebakan aktivitas dari senyaawa toksin yang ada pada biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) mampu dijadikan sebagai bioinsektisida yang ampuh, murah dan ramah terhadap lingkungan khusunya pada tanah pertanian.

Sedangkan pada perlakuan atau penyemprotan menggunakan insektisida kimia (Furadan) data yang diperoleh menunjukkan bahwa jumlah organisme parasit yaitu kutu kebul (Bemicia tabachi) dan semut merah (Formica ruva) menjadi berkurang atau sedikit dari awal sebelum mendapakan perlakuan yang berupa tindakan penyemprotan. Sehingga dalam penelitian ini, terbukti bahwa tanaman cabai (Capsicum sp) yang terserang kutu kebul (Bemicia tabachi) dan semut merah (Formica ruva) dapat dikendalikan menggunakan insektisida kimia (Furadan) dengan waktu efektif 3-4 bulan dalam satu kali penyemprotan. Namun penggunaan insektisida kimia (Furadan) mengganggu kelestarian lingkungan, karena dapat menyebabkan resisten (kekebalan) pada organisme parasit, selain itu dengan munculnya organisme hama/parasit sekunder dapat memperparah kerusakan lingkungan.

Disisi lain dalam proses kerja, jika para petani menggunakan bahan pembasmi organisme parasit yang berupa insektisida kimia, ketika melakukan penyemprotan dan terhirup dari bahan insektisida kimia tersebut dapat membahayakan bagi kesehatan para petani Kabupaten Lampung Tengah, sehingga penggunaan insektisida kimia kurang dianjurkan dan lebih baik untuk disarankan agar dapat menggunakan bioinsektisida yang bersifat ramah lingkungan.
Berdasarkan penelitian yang telah kami lakukan, ternyata kandungan senyawa aktif yang terdapat pada biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) diantaranya alkaloid, saponin, flavonoid, polifenol serta senyawa toksin yang tinggi dapat dimanfaatkan sebagai bioinsektisida dalam mengendalikan populasi organisme parasit kutu kebul (Bemicia tabachi) dan semut merah (Formica ruva).
Karena kedua organisme parasit tersebut mengganggu kelangsungan pertumbuhan dan perkembangan pada tanaman. Selain itu, kutu kebul (Bemicia tabachi) merupakan salah satu media penular (vektor) penyakit pada tanaman. Kutu kebul sering kali menjadi inang dari beberapa perkembangbiakkan virus seperti virus gemini dan mozaik. Dengan demikian kerusakan yang disebabkan oleh penyakit virus yang ditularkannya sering merugikan dibandingkan dengan kerusakan yang disebabkan hama kutu kebul (Bemicia tabachi) itu sendiri.

Persentase infeksi virus gemini oleh kutu kebul berkolerasi positif dengan populasi serangga vektor, terutama serangga yang viruliferus. Selain itu, keragaman serangga vektor juga memengaruhi persentase tingkat infeksi. Oleh karena itu, pengetahuan tentang spesies dan biotipe kutu kebul (Bemicia tabachi) sangat diperlukan dalam memberikan landasan pengendalian hama penyakit terpadu pada tanaman, dengan demikian semut merah (Formica ruva) dan kutu kebul (Bemicia tabachi) harus dikendalikan secara cepat bioinsektisida yang ramah lingkungan.

Disisi lain dalam kehidupan masyarakat luas yang mencakup para petani, konsumen, dan para industri hasil pertanian akan menghasilkan prospek keuntungan yang menggairahkan bagi kebangkitan perekonomian petani. Adapun beberapa keuntungan yang diperoleh dari penggunaan bioinsektisida biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) yaitu sebagai berikut:

1.      Dalam sektor petani dan pertanian
a.  Meningkatkan nilai produksi tanaman cabai (Capsicum sp)
b.  Menghemat biaya pembelian bahan pembasmi hama/parasit
c.  Mengurangi dan mengendalikan serangan organisme parasit
d.  Mengurangi risiko terkontaminasi insektisida kimia
e.       Mudah diperoleh serta sangat mudah untuk diolah
f.        Tidak merusak lahan pertanian karena bersifat alami

2.      Sosial masyarakat
a.       Sebagai gebrakan baru, untuk mengurangi penggunaan bahan kimia
b.      Prospek sosialisasi tentang pemanfaatan tumbuhan disekitar masyarakat
c.       Menimbulkan sifat peduli lingkungan dan bersikap hati-hati dalam penggunaan bahan kimia


3.      Pendidikan
a.       Meningkatkan pengetahuan dan wawasan para pelajar didaerah Kabupaten Lampung Tengah
b.      Menumbuhkan potensi kreatifitas dalam ajang membangun daerah Kabupaten Lampung Tengah
c.       Menumbuhkan pelajar yang intelektual  dan dapat berdaya saing dengan memanfaatkan tanaman yang terdapat didaerah Kabupaten Lampung Tengah
4.      Ekonomi
a.       Menumbuhkan angka perekonomian/pendapatan para petani cabai
b.      Sebagai bahan alternatif yang siap berdaya saing
c.       Membuka kesempatan untuk berwirausaha di sektor pertanian

Perhitungan Keuntungan yang akan diperoleh para petani Kabupaten Lampung Tengah:
1.  Menggunakan Insektisida Kimia (Furadan)
           Diketahui:
           Harga Insektsidia Kimia (Furadan) ukuran 1ℓ: Rp. 50.000,-
           Penggunaan tiap lahan/(HA): 4-6ℓ (Parasit Keras)
           Total Biaya: 6 x Rp. 50.000,- = Rp.300.000,-

2.  Menggunakan Bioinsektisida Biji Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa)
Diketahui:
Harga bioinsektisida biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa): Rp. 0,-
Penggunaan tiap lahan/(HA): 4-5 ℓ
Total biaya: Petani tidak perlu mengeluarkan biaya, jika terdapat pohon mahkota dewa (Phaleria macrocarpa).

Jadi, selisih harga yang diperoleh=  Rp. 300.000,- (jika petani menggunakan insektisida kimia)

                                                BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN


4.1    Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah :
4.1.1       Biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) dapat dimanfaatkan sebagai bioinsektisida tanaman cabai (Capsicum sp)
4.1.2       Pengolahan biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) yaitu mengupas buah, memisahkan biji dari cangkang, merebus, penyaringan, pendinginan, penuangan dalam tangki penyemprot
4.1.3       Penggunaan bioinsektisida biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa) memberikan banyak keuntungan pada lapisan/sektor masyarakat, seperti : Petani dan pertanian, Pendidikan, sosial dan ekonomi di Kabupaten Lampung Tengah

4.2     Saran
Adapun saran – saran yang dapat disampaikan dalam penelitian adalah :
4.2.1              Perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh pemberian kadar/konsentrasi dari larutan biji mahkota dewa (Phaleria macrocarpa)
4.2.2              Dalam proses kegiatan penyemprotan sebaiknya dilakukan saat cuaca dalam keadaan cerah, sehingga dapat bernilai optimal
4.2.3              Masyarakat daerah perlu menggalakan tindakan menanam pohon atau tanaman yang dapat dimanfaatkan bagi lingkungan.


DAFTAR PUSTAKA