Kamis, 13 Desember 2012

PENGAMBILAN CONTOH TANAH UTUH UNTUK PENETAPAN KERAPATAN ISI DAN RUANG PORI TOTAL (POROSITAS) TANAH (Laporan Dasar-Dasar Ilmu Tanah)


PENGAMBILAN CONTOH TANAH UTUH UNTUK PENETAPAN KERAPATAN ISI DAN RUANG PORI TOTAL (POROSITAS) TANAH
(Laporan Dasar-Dasar Ilmu Tanah)




Oleh
LUGITO
1114121122







JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2012



I.       PENDAHULUAN


1.1.Latar Belakang

Kerapatan isi adalah bobot kering suatu isi tanah dalam keadaan utuh yang dinyatakan dalam g /cm3. Isi tanah terdiri dari isi bahan padatan dan isi ruangan di antaranya. Bagian isi tanah yang tidak terisi oleh bahan padat, baik bahan mineral maupun bahan organik disebut ruang pori tanah. Kerapatan jenis zarah adalah massa (bobot) suatu unit yang hanya terdiri dari bagian padatan dan dinyatakan dalam gram tiap sentimeter kubik.
Secara umum, sifat-sifat fisik tanah banyak bersangkutan dengan kesesuaian tanah untuk berbagai penggunaan. Kekuatan dan daya dukung kemampuan tanah menyimpan air, drainase, penetrasi akar, tanaman, tata udara dan pengikat unsur hara, semuanya sangat erat kaitannya dengan sifat fisik tanah. Intinya adalah tanah merupakan suatu sistem yang terdiri dari tiga fase, yaitu padat, cair, gas. Fase padat terdiri dari mineral dan bahan organik. Fase cair ditempati oleh larutan yang mengisi ruang-ruang diantara fase padat. Ruang yang tidak terisi oleh fase cair diisi oleh fase gas.
Tanah memiliki massa, yang dimaksudkan disini adalah berat tanah. Berat jenis butiran adalah berat dari  suatu satuan volume fase padat tanah. Volume butiran tanah yang sama dengan jumlah air yang dapat diganti tempat oleh tanah dapat dihitung.
Sementara berat isi adalah berat (massa) satuan volume tanah kering, umumnya dinyatakan dalam g /cm3 . Disini kerapatan limbak juga mempengaruhi tingkat temperatur dan kelembaban tanah. Hal ini dikarenakan semakin besar ruang porinya akan semakin kecil kerapatan limbaknya.

1.2.Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah :
1.      Mengetahui perbedaan kerapatan isi, kerapatan jenis, dan ruang pori total.
2.      Menghitung dan menetapkan kadar air,
3.      Menghitung kerapatan isi, jenis dan kadar air tanah.


II.    TINJAUAN PUSTAKA

Sifat-sifat fisika tanah berhubungan erat dengan kelayakan pada banyak penggunaan (yang diharapkan dari) tanah. Kekokohan dan kekuatan pendukung, drainase dan kapasitas penyimpanan air, plastisitas, kemudian kemudahan ditembus akar, aerasi, dan penyimpanan hara tanaman semuanya secara erat berkaitan dengan kondisi fisika tanah. Oleh karena tiu, erat kaitannya bahwa jika seseorang berhadapan dengan tanah dia harus mengetahui sampai berapa jauh dan dengan cara apa sifat-sifat tersebut dapat diubah. Hal ini berlaku apakah tanah itu akan digunakan sebagai medium untuk pertumbuhan tanaman atau sebagai bahan struktural dalam pembangunan. Bobot merupakan kerapatan tanah per satuan volume yang dinyatakan dalam dua batasan yaitu :
1.      Kerapatan partikel (bobot partikel, BP) adalah bobot massa partikel padat per satuan volume tanah, biasanya tanah mempunyai kerapatan partikel 2,6 g/cm3.
2.      Kerapatan massa (bobot isi, BI) adalah bobot massa tanah kondisi lapangan yang dikering-ovenkan per satuan volume. Nilai kerapatan massa tanah berbanding lurus dengan tingkat kekasaran partikel-partikel tanah, makin besar akan makin berat  ( Foth, 1994).

Kerapatan partikel (Bulk Density) merupakan berat partikel persatuan volume tanah beserta porinya. Kisaran kerapatan limbat tanah bervariasi cukup lebar tergantung ruang pori dan tekstur tanahnya. Bahan organik mineral juga mempengaruhi kerapatan limbat. Bahan organik berperan dalam pengembangan struktur. Semakin tinggi kandungan bahan organiknya semakin berkembang struktur tanah yang dapat mengakibatkan bongkah semakin kecil (Hartati,2001).

Bagi tetanaman fungsi pertama tanah adalah sebagai media tumbuh dan sebagai tempat akar berpenetrasi (sifat fisik) yang selama cadangan nutrisi (hara) masih tersedia di dalam benih, hanya air yang diserap oleh akar-akar muda, kemudian bersamaan dengan makin berkembangnya perakaran cadangan makanan ini menipis, untuk melengkapi kebutuhannya maka akar-akar ini menyerap nutrisi baik berupa ion-ion anorganik seperi N, P, K dan lain-lain, senyawa organik sederhana, serta zat-zat pemacu tumbuh. Kemudahan tanah untuk dipenetrasi tergantung pada ruang pori-pori yang terbentuk di antara partikel-partikel tanah, sedangkan stabilitas ukuran ruang tergantung pada konsistensi tanah terhadap pengaruh tekanan. Kerapatan porositas menentukan kemudahan air untuk bersikulasi dengan udara. Sifat fisik lain yang penting adalah warna dan suhu tanah. Warna mencerminkan jenis mineral penyusun tanah, reaksi kimiawi, intensitas pelindian dan akumulasi bahan yang terjadi. Sedangkan suhu merupakan indikator energi matahari yang dapat diserap oleh bahan-bahan penyusun tanah  (Hanafiah, 2007). 

Pori tanah adalah ruang-ruang yang terletak antara padatan bahan tanah. Pori tanah diklasifikasikan berdasar pada ukuran yang setara ruang antar bahan padat tanah. Pengklasifikasian pori tanah dapat dilaksanakan dengan menganggap pori tanah ini sebagai badan tunggal di dalam tubuh tanah. Antar poribesar berukuran setara akan dihubungkan oleh sekumpulan pori-pori berukuran sangat kecil. Pada susunan padat sederhana butiran pasir, dengan pori yang berbentuk dan berukuran serupa, saling berhubungan, maka bidang kerut-tegas yang terlihat dianggap sabagai batas dari suatu pori. Pori dengan O < 30 mikron berperan penting bagi jasad renik tanah dan tanaman, pori dengan O 30-100 mikron penting pada fenomena pergantian udara tanah dan cadangan untuk transpot dan pengagihan air tanah, dan pori dengan O > 100 mikron berperan besar dalam mempercepat laju penetrasi udara ke bagian tubuh tanah sebelah dalam, serta mempercepat pelaluan air. Pori tanah dapat dikelompokkan menjadi delapan kategori, yaitu packing void yang terdiri dari simple packing dan compoud packing, vugh, vesicle, channel dan chamber, plane yang terdiri dari joint, craze dan skew  (Poerwowidodo, 1990).


III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1.Hasil Pengamatan

Adapun hasil yang di dapatkan dari percobaan ini adalah sebagai berikut :

Tabel 1. Data Pengamatan

Sampel tanah
Bobot Tabung (g)
Tabung + Tanah Basah (g)
Tanah Basah (g)
Tabung + Tanah Kering (g)
Diameter (cm)
Tinggi (cm)
L1 U1
73,262
263,48
190,218
195,56
5,5
4,8
L1 U2
70,563
247,46
176,897
206,87
5,5
4,8
L2 U1
79,126
251,15
171,934
209,30
5,5
5
L2 U2
76,466
250,52
174,054
207,61
5,5
5

Tabel 2. Data hasil Perhitungan

Sampel Tanah
Bobot air (g)
Tanah Kering (g)
Kadar Air (%)
Volume Tanah (
Bobot Kering Tanah (g)
L1 U1
67,92
122,298
55,54
113,98
84,570
L1 U2
40,59
136,307
29,78
113,98
124,217
L2 U1
41,76
130,174
32,08
118,73
116,778
L2 U2
42,91
131,144
32,72
118,73
117,78

Tabel 3. Hasil Penetapan Kerapatan Isi dan Ruang Pori Total

Lokasi
Ulangan
Kerapatan isi
( g/cm3)
Rata-Rata
(g/cm3)
Ruang Pori Total (%)
Rata-Rata (%)
Lokasi 1
1
0,741
0,9154
72,04
65,46
2
1,0898
58,88
Lokasi 2
1
0,983
0,9845
62,91
62,855
2
0,986
62,8

3.2. Pembahasan

Pada pengambilan contoh tanah untuk analisis fisik tanah dilakukan beberapa tahapan. Pertama  tanah yang menjadi bahan untuk pengambilan contoh tanah dibersihkan dan diratakan permukaannya. Keadaan tanah yang dijadikan sampel  jangan terlalu kering maupun basah. Selain itu, tabung silinder besi diletakkan tegak pada tanah tersebut lalu ditekan ke dalam. Kemudian untuk membantu pengambilan tanah yang utuh, maka digunakan tabung lain yang diletakkan di atas tabung pertama kemudian ditekan lebih dalam lagi sampai batas setengah dari tabung yang kedua. Untuk mengambil tabung yang pertama, tanah harus digali sampai kedalaman tanah lebih pada tabung pertama sehingga contoh tanah dapat utuh. Penggalian tanah menggunakan sekop atau cangkul dan setelah terangkat tabung kedua dipisahkan dan dibersihkan. Sedangkan pada tabung pertama, kelebihan sisa-sisa tanah dipotong dengan menggunakan kater. Dan dipotong sampai rata dan utuh di dalam tabung. Kemudian ditutup dengan plastik agar kelembaban tanah terjaga. Kegiatan ini diulang sebanyak dua kali sehingga dapat dibedakan antara contoh tanah yang satu dengan yang lain. Pengambilan contoh tanah ini dilakukan pada dua lokasi.
Sebelum pengambilan contoh tanah dilapangan, tabung-tabung tersebut dihitung diameter dan tingginya dengan jangka sorong. Selain itu, tabung-tabung juga ditimbang bobotnya agar setelah mengambil contoh tanah, bobot tanah basah dapat dihitung. Setelah tabung terisi penuh dengan tanah, maka kembali ditimbang dan ditutup dengan plastik dari aluminium. Selanjutnya dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 1050C selama 24 jam. Lalu setelah 24 jam tanah tersebut dimasukkan ke dalam desikator. Hal ini bertujuan unutk menyamakan suhu contoh tanah dengan suhu ruangan. Contoh tanah yang dimasukkan ke dalam desikator ditunggu (dibiarkan) selama 1 jam. Setalah 1 jam, plastik dibuka dan ditimbang kembali dan dicatat bobot keringnya. Setelah itu tanah dibersihkan.

Faktor-faktor tang mempengaruhi kerapatan isi sebagai berikut :
a.       Tekstur Tanah
Tekstur Tanah dapat diartikan sebagai  penampilan visual suatu tanah berdasarkan komposisi kualitatif dari ukuran butiran tanah dalam suatu massa tanah tertentu. Tekstur tanah menunjukkan komposisi partikel penyusun tanah.
b.      Bahan Organik
Bahan organik biasanya berasal dari proses pelapukan batuan. Bahan organik komposisinya didalam tanah memang sedikit yaitu berkisar 3%-5% tapi pengaruhnya sangat besar terhadap perubahan sifat-sifat tanah. Bahan organik dalam tanah terdiri atas bahan organik kasar dan bahan organik halus.
c.       Struktur
Struktur tanah merupakan gumpalan-gumpalan kecil alami dari tanah, akibat melekatnya butir-butir primer tanah satu sama lain.
Faktor-faktor yang mempengaruhi ruang pori tanah adalah :
a.       Kandungan Bahan Organik
b.      Struktur Tanah
c.       Tekstur Tanah
Dari hasil yang didapat dari percobaan ini didapatkan perbedaan tekstur data antara lokasi 1 dan yang lain, serta sampel 1 dan yang lain. Hal ini disebabkan oleh :
a.       Tekstur Tanah
Kadar air tanah bertekstur liat > lempung > pasir. Pengaruh tekstur tanah terhadap proporsi bahan koloidal, ruang pori dan luas permukaan adsorpHtif, yang semakin halus teksturnya akan makin banyak, sehingga makin besar kapasitas simpan airnya.
b.      Bahan Organik Tanah (BOT)
Bahan organic tanah mempunyai pori-pori mikro  yang jauh lebih banyak daripada partikel mineral tanah yang berarti luas permukaan penyerapan juga lebih banyak sehingga makin tinggi kadar bahan organic tanah makin tinggi kadar dan ketersediaan air tanah.
c.       Kedalaman solum/lapisan tanah menentukan volume simpan air tanah. Makin dalam maka ketersediaan dan kadar air tanah juga semakin banyak.

d.      Porositas Tanah
Tanah yang memiliki poros berarti tanah yang cukup mempunyai ruang pori untuk pergerakan air dan udara masuk-keluar tanah secara leluasa.
e.       Banyaknya jumlah mikroba didalam tanah dan organisme/jasad renik.
f.       Bahan mineral tanah juga dapat dijadikan faktor pembeda.
Dari perhitungan diatas hasil rata-rata kerapatan isi lokasi 1 sebesar 0,9154 g/cm3 sedangkan pada lokasi 2 sebesar 0,9845 g/cm3. Sedangkan untuk runag pori total lokasi 1 sebesar 65,46 % dan pada lokasi 2 sebesar 62,855 %. Kerapatan isi berbanding terbalik dengan ruang pori total sedangkan ruang pori total berbanding lurus dengan kerapatan jenis tanah.
Fungsi dari penggunaan ring sampel adalah untuk memudahkan perhitungan serta melihat ruang pori tanah, kerapatan isi, keutuhan tanah yang didapat dan juga memudahkan dalam pengukuran.

IV.    KESIMPULAN

Dari kegiatan praktikum yang dilakukan didapatkan kesimpulan sebagai berikut :
1.      Faktor yang membedakan hasil dari lokasi 1 dan lokasi 2 antara lain tekstur tanah, kedalaman tanah, kadar bahan organic, porositas tanah, aktivitas organisme.
2.      Kerapatan isi berbanding terbalik dengan ruang pori total.
3.      Ruang pori total berbanding lurus dengan kerapatan jenis tanah.
4.      Kerapatan isi pada lokasi 1 lebih rendah dibanding lokasi 2.
5.      Ruang pori total lokasi 1 lebih tinggi dibanding lokasi 2


DAFTAR PUSTAKA


Foth, Henry.D.1994. Dasar-Dasar Ilmu Tanah Edisi Keenam. PT. Gelora Aksara Pratama. Jakarta.

Hanafiah,Kemas Ali. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. PT. Raja Grafindo Persada.
                   Jakarta.


Hartati,T.T. 2001. Perbaikan Sifat Psament Melalui Pemberian Bahan Andisol dan
Limbah Olah Sagu. Program Pasca sarjana Fakultas Pertanian.   Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.(Thesis).


Poerwowidodo. 1991. Genesa Tanah : Proses Genesa dan Morfologi. CV. Rajawali. Jakarta.


0 komentar:

Poskan Komentar