Jumat, 14 Desember 2012

BAHAN ORGANIK TANAH (Laporan Dasar-Dasar Ilmu Tanah)



BAHAN ORGANIK TANAH
(Laporan Dasar-Dasar Ilmu Tanah)



Oleh
LUGITO
1114121122










 


JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2012


 
I.       PENDAHULUAN


1.1.Latar Belakang

Bahan organik adalah sekumpulan beragam senyawa-senyawa organik kompleks yang sedang atau telah mengalami proses dekomposisi, baik berupa humus hasil humifikasi maupun senyawa-senyawa anorganik hasil mineralisasi dan termasuk juga mikrobia heterotrofik dan ototrofik yang terlibat dan berada didalamnya.
Bahan organik tanah merupakan timbunan binatang dan jasad renik yang sebagian telah mengalami perombakan. Bahan organik ini biasanya berwarna cokelat dan bersifat koloid yang dikenal dengan humus, Humus terdiri dari bahan organik halus yang berasal dari hancuran bahan organik kasar serta senyawa-senyawa baru yang terbentuk dari hancuran bahan organik tersebut melalui suatu kegiatan mikroorganisme dalam tanah.
Bahan organik mencakup semua bahan yang berasal dari jaringan tanaman dan hewan, baik yang hidup maupun yang telah mati, pada berbagai tatanan dekomposisi. Bahan organik tanah lebih mengacu pada bahan (sisa jaringan tanaman/hewan) yang telah mengalami perombakan/dekomposisi baik sebagian/seluruhnya, yang telah mengalami humifikasi maupun yang belum.
Kandungan bahan organik di wilayah tropika serupa dengan yang ada di wilayah iklim sedang. Oksisols yang sangat lapuk mempunyai kandungan bahan organik yang lebih tinggi daripada ditunjukkan oleh warnanya yang kemerah-merahan.
Faktor yang mempengaruhi kandungan bahan organik tanah dapat dianalis dalam hubungan dengan tambahan bahan organik tahunan dan laju pelapukan tahunan.

1.2. Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.      Mengetahui proses dekomposisi bahan organik.
2.      Mengetahui penetapan bahan organik tanah secara kualitatif berdasarkan warna tanah.
3.      Mengetahui penetapan kandungan bahan organik tanah berdasarkan jumlah bahan organik yang mudah teroksidasi (metode Walkey dan Black).


II.    TINJAUAN PUSTAKA


Bahan organik tanah merupakan hasil dekomposisi atau pelapukan bahan-bahan mineral yang terkandung didalam tanah. Bahan organik tanah juga dapat berasal dari timbunan mikroorganisme, atau sisa-sisa tanaman dan hewan yang telah mati dan terlapuk selama jangka waktu tertentu.bahan organik dapat digunakan untuk menentukan sumber hara bagi tanaman, selain itu dapat digunakan untuk menentukan klasifikasi tanah (Soetjito, 1992).

Bahan organik merupakan perekat butiran lepas dan sumber utama nitrogen, fosfor dan belerang. Bahan organik cenderung mampu meningkatkan jumlah air yang dapat ditahan didalam tanah dan jumlah air yang tersedia pada tanaman. Akhirnya bahan organik merupakan sumber energi bagi jasad mikro. Tanpa bahan organik semua kegiatan biokimia akan terhenti (Doeswono,1983). 

Sumber primer bahan organik dalam tanah Alfisol adalah jaringan tanaman berupa akar, batang, ranting dan daun. Jaringan tanaman ini akan mengalami dekomposisi dan akan terangkut ke lapisan bawah serta diinkorporasikan dengan tanah tersebut (Islami,1995).

Kandungan organik tanah biasanya diukur berdasarkan kandungan C-organik kandungan karbon (C) bahan organik bervariasi antara 45%-60% dan konversi C-organik menjadi bahan = % C-organik x 1,724. Kandungan bahan organik dipengaruhi oleh arus akumulasi bahan asli dan arus dekomposisi dan humifikasi yang sangat tergantung kondisi lingkungan (vegetasi, iklim, batuan, timbunan, dan praktik pertanian).
Arus dekomposisi jauh lebih penting dari pada jumlah bahan organik yang ditambahkan. Pengukuran kandung bahan organik tanah dengan metode walkey and black ditentukan berdasarkan kandungan C-organik (Foth,1994).

Bahan organik adalah sekumpulan beragam senyawa-senyawa organik kompleks yang sedang atau telah mengalami proses dekomposisi baik berupa humus hasil humifikasi maupun senyawa-senyawa organik hasil mineralisasi dan termasuk juga mikrobia heterotrofik organik dan ototrofik yang terlibat dan berada didalamnya (Madjid,2007).

Bahan organik tanah terbentuk dari jasad hidup tanah yang terdiri atas flora dan fauna, perakaran tanaman yang hidup dan yang mati, yang terdekomposisi dan mengalami modifikasi serta hasil sintesis baru yang berasal dari tanaman dan hewan. Humus merupakan  bahan organik tanah yang sudah mengalami prubahan bentuk dan bercampur dengan mineral tanah (Sutanto,2005).


III.  HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1.Hasil Pengamatan

Adapun Tabel Hasil Penetapan Bahan Organik Tanah yaitu sebagai berikut :

Jenis Tanah
Warna Tanah
Kandungan C-organik (%)
Kandungan Bahan Organik (%)
GM
Cokelat gelap
-26,46 %
-45,61 %
GGPC
Cokelat terang
2,92 %
5,03%


3.2  Pembahasan

Bahan organik tanah adalah hasil dekomposisi dari organisme yang hidup yang tersusun dari campuran polisakarida, lignin, dan protein dan bahan orgaik yang berasal dari batuan dan mineral.
Bentuk-bentuk dari bahan organik tanah adalah berbentuk humus, yang meliputi akar tanaman hidup, komponen-komponen humus, sisa-sisa tanaman dan hewan serta mikroorganisme yang telah terdekomposisi sebagian.

 Komposisi bahan organik terdiri dari :
1.      10-20 % karbohidrat
2.      20 % Nitrogen
3.      10-20 % asam lemak alifatik dan alkana
4.      < 50 % karbon aromatic

Bahan organik juga berpengaruh terhadap sifat-sifat tanah. Berupa pengaruh secara fisik, kimia dan biologi tanah.
Pengaruh secara fisik antara lain :
a.       Mempengaruhi warna tanah menjadi lebih kelam (cokelat hingga hitam) yang akan menyebabkan naiknya suhu.
b.      Menetralisir daya rusak butir-butir hujan.
c.       Meningkatkan daya tanah dalam menahan air sehingga drainase tidak berlebihan.
d.      Meningkatkan agregasi dan urobilitas agregat, aerasi menjadi lebih baik, drainase lebih baik, dan lebih tahan terhadap erosi dan pencucian.
e.       Stimulan terhadap granulasi tanah.
f.       Memperbaiki struktur tanah menjadi lebih remah.
g.      Menurunkan plastisitas dan kondisi tanah lempung dan tanah lebih mudah diolah.
h.      Menaikkan kemampuan mengikat atau menyimpan air.

Pengaruh pada sifat kimia tanah antara lain :
a.       Menghasilkan humus tanah yang berperan secara koloidal dari sebyawa sisa mineralisasi dan senyawa sulit terurai dalam proses humifikasi.
b.      Merupakan cadangan unsure hara utama N, P, S dalam bentuk organik dan unsure hara mikro dalam bentuk kelat dan akan dilepaskan secara perlahan-lahan.
c.       Meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) tanah 30 kali lebih besar.
d.      Meningkatkan ketersediaan dan efisiensi pemupukan serta melalui peningkatan pelarutan P oleh asam-asam organik hasil dekomposisi bahan organik.
e.       Meningakatkan aktivitas, jumlah dan populasi unsure mikri dan makro organisme tanah.
f.       Menurunkan muatan positif tanah melalui proses pengkelatan terhadap mineral oksidan dan kation Al dan Fe yang reaktif sehingga menurunkan fiksasi P tanah.

Pengaruh Sifat Biologi tanah antara lain :
a.       Meningkatkan populasi organisme tanah
b.      Meningkatkan keragaman organisme yang dapat hidup dalam tanah.

Bahan organik lebih banyak di daerah topsoil dibandingkan di daerah subsoil, hal ini dikarenakan di daerah topsoil, kandungan bahan organik di bagian topsoil lebih tinggi dibandingkan di daerah subsoil. Hal ini disebabkan adanya aktivitas mikroorganisme dalam kegiatan proses pelapukan dan dekomposisi bahan orgaik dimana mikroorganisme aktif mendekomposisi pada daerah topsoil. Apabila semakin ke dalam bawah tanah, maka aktivitas mikroorganisme akan semakin berkurang sehingga pada daerah subsoil akan memiliki kandungan bahan organik yang lebih rendah dibandingkan di daerah topsoil.
Sumber bahan organik terdiri dari :
a.       Sumber Primer
Diperoleh dari jaringan tanaman berupa akar,batang, ranting, daun, bunga, dan buah. Jaringan ini akan mengalami proses dekomposisi dan akan terangkut ke lapisan bawah serta diingkorporasikan dengan tanah.
b.      Sumber Sekunder
Sumbernya berasal dari hewan. Dalam kegiatannya, bintang terlebih dahulu harus menggunakan bahan organik tanaman setelah itu barulah cacing menyumbangkan bahan organiknya melalui hasil pembuangan kotorannya.
Dari praktikum yang telah dilakukan didapatkan hasil kandungan % C-organik pada tanah GGPC sebesar 2,92 % dan Kandungan bahan organiknya sebesar 5,03 %. Sedangkan pada tanah GM didapat hasil -26,46 % untuk kandungan % C-Organik dan -45,61 % untuk kandungan bahan organik. Data tersebut adalah hasil penentuan bahan organik dari metode kuantitatif. Sementara untuk penentuan secara kualitatif untuk jjenis warna tanah pertama (GM) kandungan bahan organik tinggi, karena memiliki tanah yang lebih hitam dan tingkat keremahan juga lebih tinggi dibanding dengan jenis dan warna tanah pada tanah GGPC.
Dari beberapa pembahasan diatas, dapat diketahui apabila suatu tanah kekurangan bahan organik tanah makan akan cenderung berwarna terang baik kuning atau merah dan kemampuan untuk menahan air dan menyediakan unsur hara makro dan mikro yang diperlukan tanaman rendah, sehingga tanaman yang tumbuh diatasnya tidak berwarna hijau dan batangnya kecil. Aktifitas mikroorganisme tanah sedikit atau bahkan tidak ada. Selain itu, jika tanah ingin digunakan sebagai tanah pertanian perlu ditambahkan bahan organik.


IV.    KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang diperoleh dari praktikum bahan organik tanah adalah sebagai berikut :
1.     Kandungan bhaan organik lebih banyak didapatkan didaerah topsoil dibandingkan di daerah subsoil.
2.       Tinggi rendahnya bahan organik tanah dipengaruhi oleh suhu, curah hujan, vegetasi. Dan struktur tanah.
3.       Semakin banyak kandungan humus, maka warna tanah semakin pekat.
4.    Jenis tanah GGPC kandungan bahan organik tanah lebih tinggi dibandingkan
       Jenis-jenis tanah GM.
5.       Fungsi bahan organik tanah dapat mempengaruhi sifat fisik, sifat kimia, dan
       Sifat biologi tanah.
6.       Bahan organik yang dimiliki suatu tanah berasal dari sumber primer dan
        sumber sekunder.


DAFTAR PUSTAKA


Doeswono,1983. Ilmu-Ilmu Terjemahan. Bhtara Karya Aksara. Jakarta.

Foth, Henry. D, 1994 . Dasar-Dasar Ilmu Tanah Jilid ke Enam . Erlangga.  Jakarta.

Islami, T. 1995. Klasifikasi Tanah. Aka press. Jakarta.

Madjid, Abdul. 2007. Bahan Organik Tanah. Universitas Sriwijaya. Palembang.

Soetjipto,dkk . 1992 . Dasar-Dasar Irigasi . Erlangga . Jakarta.

Sutanto, Rachman . 2005 . Dasar-Dasar Ilmu Tanah Konsep Kenyataan . Kanisius. Yogyakarta.

3 komentar:

Poskan Komentar